*) ‘afwan, Cuma mau curhat…
Saya selalu merinding bicara tentang ‘istiqomah’, selalu stress ngobrolin penyakit ‘futur’, apalagi ketika mendengar kisah-kisah aktivis yang ‘berguguran’. Terlebih, itu terjadi pada teman sendiri. Campur aduk rasanya antara marah -karena ma’shiyat yang ia lakukan-, sedih, kasihan, juga takut -takut mendapatkan cobaan yang sama, atau azab jika membiarkan ma’shiyat terjadi tanpa menasihati-.
Kali ini saya pun kaget luar biasa atas perubahan salah seorang teman saya. Tidak, tidak ada yang banyak berubah jika melihat penampilannya, dia tidak lepas jilbab, tidak pakai baju atau celana ketat, tidak pula pakai kerudung ‘gubet-gubet’ yang diikat di leher. Dia masih ‘ngaji’ juga masih berkontribusi dalam sebuah aktivitas da’wah. Alhamdulillah…
Lalu?
Awal tahun ini, dia curhat ke saya via telepon tentang kondisi tempat kerjanya, ia bercerita bahwa ia sedang mendapat ujian dari Allah, ada seorang laki-laki, teman kerjanya yang menaruh hati padanya. Sayangnya dia bukan ‘ikhwan’, dia laki-laki biasa. Teman saya ini pun meminta saya untuk mencarikan ‘jodoh’ untuknya, karena dia sudah merasa siap untuk menikah. Sayang, saya menanggapi tidak terlalu serius, ‘‘lha saya sendiri belum dapet e, gimana nyarinya…?”.
Beberapa kali, teman saya ini menanyakan nama ikhwan yang juga saya mengenalnya. Ikhwan kampus yang pernah sama-sama dalam satu organisasi dengannya. Seringkali ia menyebut-nyebut nama ikhwan tersebut dalam obrolan kami. Terlihat oleh saya, jika teman saya ini ‘barangkali’ mengharapkan ikhwan tersebut. Ingin hati menolong, tapi bagaimana caranya? Saya jadi bingung sendiri.
Lama, kami tidak contact-contact an lagi. Hingga satu hari dia menelepon dan bercerita dengan sumringah, “mbak, skarang saya sedang ‘proses’”. Alhamdulillah…
“Sama siapa?” tanyaku. Rupanya dia menindaklanjuti teman kerjanya yang ‘bukan ikhwan’ -maaf, istilah ini hanya untuk memudahkan penyebutan saja- itu. Subhannallah.
“MR sudah kasih support mbak, insyaAllah syawal ini lamaran.”
“Siip, saya tunggu undangannya, kalau butuh bantuan nggak usah sungkan” kataku.
Selama ini, kami memang lebih sering berhubungan via telepon saja, jarang sekali bertemu langsung, atau pun jika itu terjadi pastilah Cuma sebentar sekali. Masing-masing kami tersibukkan oleh aktivitas yang berbeda. Saya tidak tahu lebih banyak kabarnya selain apa yang diceritakannya via telepon saja. Saya tidak tahu lebih banyak tentang kehidupannya dan kesulitan-kesulitannya saat ini. Saya merasa menjadi saudara paling buruk sedunia karena telah membiarkan saudaranya menghadapi cobaannya sendirian.
Selama ini saya hanya berpikir, toh dia sudah dewasa, apalagi sebagai mantan akhwat nomer satu di kampusnya, insyaAllah dia akan mudah saja untuk survive dalam setiap kondisi. Apalagi dia telah memiliki ‘keluarga’ dan ‘ummi’ baru (setelah pindah ke kota tempat kerjanya saat ini), meski saya tahu lingkungan kerja dan kost-nya benar-benar tidak kondusif.
Hingga, di satu siang satu fakta dihadapkan kepada saya. Teman saya pergi berboncengan dengan laki-laki, yang waktu itu saya tidak tahu siapa. Saya meredam berbagai prasangka, barangkali kakaknya, barangkali adiknya atau siapapun yang masih mahramnya.
Belakangan saya tau dia adalah teman kerjanya yang juga calon suaminya. Tapi… masih CALON, yang rencananya bulan depan baru akan datang melamar.
Saya sedih sekali. Bagi oranglain barangkali hal ini wajar saja. Tapi tidak bagi kami. Sangat tidak wajar jika teman saya ini melakukan hal ini. Ada praktik ‘berduaan’ juga ‘sentuhan’ pada boncengan yang sudah mampu digolongkan pada apa-apa yang dilarang dalam QS. Al Israa 32.
Saya sempatkan untuk bersilaturrahim dan menginap bersama teman saya ini, sekaligus bermaksud tabayyun dengan apa yang telah saya ketahui. Namun belum juga saya menyakan hal ini, saya malah ditambah sedih dengan menyaksikan teman saya tanpa malu dihadapan saya berteleponan mesra dengan ‘teman kerjanya’ itu layaknya muda-mudi pacaran. Bahkan hampir di setiap jamnya. Naudzubillahi miin dzaalik. Saya menyembunyikan muka agar tak tampak kesedihan saya dihadapannya, bahkan menatapnya pun saya tidak sanggup. Saya pulang tanpa hasil. Tabayyun gagal, karena sungguh saya belum mampu mengatur emosi.
Di lain kesempatan, via telepon saya hanya bisa mencoba mengingatkan dia akan sebuah visi pernikahan yang pernah sama-sama kami pahami dan kami cita-citakan. Binaul usrah sendiri adalah tahapan kedua dalam maratibul amal setelah membentuk pribadi islam. Sangat disayangkan jika akhwat sepertinya kehilangan semangat itu dalam membangun rumah tangganya. Sedangkan kebersihan proses dapat menentukan keberkahan suatu pernikahan. Saya memang tidak bisa menjamin bagaimana saya nanti akan menikah. Namun, saya merasa berkewajiban untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, dan berharap satu saat nanti banyak orang yang juga mengingatkan saya dalam kebaikan.
Ukhty, ketika setiapkali bertemu anti berkata, “…meskipun begitu orangnya hanif mbak, dia begini…. begitu….” menceritakan segala kebaikan tentangnya. Sungguh saya tidak pernah berkebaratan dengan pilihan anti. Itu hak anti, selama dia muslim yang taat. Namun jagalah proses anti, jagalah diri anti, selamatkan pernikahan dan rumah tangga yang akan anti bangun nanti dari apa-apa yang dibenci Allah…
Smoga Allah menjadikan kita orang-orang yang istiqomah dalam agama. Ya.. muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alad diinik…
*)Repost dari notes FB tanggal 26 November 2009

Posted on Januari 4, 2011
0