Surat ini, selama 7 tahun tersimpan di salah satu binder kuliahku. Barusan saya baca lagi, dan ternyata membuatku terharu… hiks… jadi teringat 7 tahun silam (2003) saat pamitan sama temen2 waktu mau pindah ke Surabaya untuk kuliah. Salah satunya ke mbak Mifta , ‘kakak’ sekaligus sahabat yang kukenal sejak 10 tahun lalu. Allhamdulillah, aku bersyukur persaudaraan ini masih terjalin hingga kini… ^_^ smoga kekal hingga ke surgaNya nanti…Amiin.
Di awal keberangkatanku, ia menitipkan surat ini padaku…-Mbak Mif, minta ijin dipublikasikan ya…
….-
___________________________________________________________________________________
Buat: icha (saudariku yang terindukan)
Assalamu’alaykum wr. wb.
Canda kita makin jauh saja rasanya, mungkin karena pulsa yang semakin mahal ya? He…he… entah kenapa surat ini muncul jadinya, mungkin karena jiwa jika dipaksa tak tahan juga akhirnya. Entah ngapain juga hari-hari ini jadi ingat yang udah-udah. Terbayang, kadang, ketika adzan merdu berkumandang melintas memori saat kita dulu itu ambil air wudlu bareng-bareng, sholat diantara barang untuk baksos. Saat makan, terngiang kenangan saat ngemil di *** di warung Bu Ponir. Di Penghujung malam, ba’da isya’, saat badan rebah di kasur tidur, kembali mengalir satu-satu memori ‘aksi’ saat kita berdesak-desakan, berpanas-panas, menyuarakan kebenaran; boikot produk Amerika-Yahudi, dukung jilbab dan celana panjang, BBM, Bela Palestina, dan Sisdiknas. Trus ada, sampai akhirnya mata terpejam…. indah.
Sekali lagi memori eksklusif itu muncul mungkin karena kita, betapapun udah berpisah (secara fisik), namun di lubuk terdalam hati kita semua itu mengendap. Dalam, sendu, dan kental. Namun, jarum berdetak, menit berganti, itu berarti, kita juga harus berpikir 2x dalam menatap dan menapaki jalan hidup ini. Jangan sampai pula hanya demi hasrat diri, kita berlepas dari amal jama’i. Betapapun kuat dan tegarnya kita, tanpa penyerta tak akan kuat mengarungi jalan Rasul yang berat ini, Ya, jalan yang panjang tak pasti akhirnya, jalan dakwah.
Mungkin hanya tulisan yang dapat mewakili semua perasaan saya. Sebuah ungkapan dari berbagai perasaan yang kini sedang tumpang tindih di hati saya. Sedih, bangga, dan perasaan-perasaan yang lain tentang Icha dan tentang *** yang menggoreskan sebuah kenangan. Singkat, tapi goresan itu sangat dalam, sehingga akan terus berkembang hingga kapanpun juga di hati dan benak saya.
Inilah satu episode kehidupan yang harus saya hadapi saat ini. Getir memang. Bagai dua sisi mata uang, pemberani-pengecut, mujahid-munafik, siang-malam, semuanya memang sudah dipasang-pasangkan oleh Yang Maha Mengatur segala urusan. Begitu juga dengan pertemuan dan perpisahan. Kita tidak dapat memungkiri salah satu atau keduanya, betapapun kita menyukainya atau membenci hal ini.
Icha, yang terpenting bagi kita sekarang bukanlah menyesali pertemuan/perpisahan itu. Tapi, bagaimana kita dapat memaknainya, sehingga kita dapat mengambil ibrah dan iktibar darinya. Hanya orang beriman yang cerdaslah yang dapat mengambil iktibar dari perjalanan hidupnya maupun perjalanan hidup orang lain. Sudah berbilang hari kita menjadi satu keluarga. Tentu bukan waktu yang sebentar bagi kita untuk saling mengenal dan mengikatkan hati. Entah Icha merasakannya/tidak. Yang jelas ada getaran hebat di hati saya ketika Icha menyatakan akan sekolah di Unair.
Saat ini saya hanya ingin minta maaf atas segala kata dan sikap saya yang tidak benar, dan saya sekaligus mengucapkan jazakillah khairan katsiir atas senyum Icha, semangat Icha, tausyiah Icha, dan semua kebaikan Icha. Saya banyak belajar dari Icha. Sungguh, kelak kita akan ditanya tentang pertemuan ini. Saya mencintaimu, cha, dan semoga Allah mencintai kita karenaNya. Saya berharap semoga Allah mengekalkan cinta kita di bawah naungan cinta-Nya. Semoga Allah mempertemukan kita selalu dalam keadaan yang lebih baik. Ingat! Tidak ada kata istirahat bagi seorang mujahid untuk memperbaiki diri dan berprestasi. Mari kita wujudkan prestasi terbesar kita kepada Allah, kepada orang-orang mukmin, dan kepada semua makhluk-Nya. Keep fighting in Surabaya. Allahu Akbar.
Wassalamu’alaykum wr. wb.
NB: Sister… Tiga Tahun telah menapak langkah kita bersama. Sedih, gembira, semangat, letih, tertatih, berlari pun telah kita coba. SMU 2, masjid kampus, mujahidin, maskam, DPRD, kantor pos besar pun menjadi saksi atas kekuatan azzam yang kita ikrarkan. Indahnya kebersamaan mampu menepis pahit getir perjuangan. Saat berpisah bukanlah akhir perjalanan. Semangat yang pernah terucap menjadi semangat tuk selalu menggapai kemenangan, hidup mulia atau mati syahid di jalanNya. Semoga kita kan segera dipertemukan di jannahNya.
Bumi perjuangan Diponegoro, sebelum aksi bela Palestina
Jogjakarta, Agustus 2003
Love U
Mba’ Miftah
*Repost dari FB, 8 November 2009

Posted on Januari 11, 2011
0