Yes, I’m Pregnant. Alhamdulillah… (1)

Posted on September 13, 2011

2


i_am_pregnant_fun_colorful_pregnancy_art_words_speckcase-p176606353583316415z7knv_400

Catatan Kehamilan 1: Ujian Kesabaran dan Aqidah

“Sudah isi belum?”Beberapa bulan setelah menikah, 27 Juni 2010 lalu, mendadak jadi sering mendapati pertanyaan itu dilontarkan kepadaku. Dan berulangkali aku menjawabnya “hehe… belum” sambil tersenyum juga menggeleng…. “mohon doanya ya…” lanjutku. Persis seperti saat sebelum menikah, banyak orang juga mengajukan pertanyaan, “kapan nikah?” dan berulangkali kujawab dengan tersenyum sambil berkata, “mohon doanya ya…”.

Pada awalnya, pertanyaan itu tidak terlalu menggangguku, terlebih saat itu aku sedang fokus pada tugas Praktek Kerja Profesi (PKP) di semester 3 kuliah magisterku. Namun, hari demi hari, minggu demi minggu, hingga bulan demi bulan, menyadari jawaban yang kuberikan tak kunjung berubah, hatiku pun mulai resah. Sementara banyak teman yang menikah di waktu hampir bersamaan, bahkan yang menikah di bulan-bulan setelah bulan pernikahanku pun telah dikaruniai kehamilan. Meski tidak banyak (berpengaruh), namun sedikit demi sedikit menambah keresahanku. “Smoga tidak ada apa-apa denganku.”

Pada dasarnya aku merasa tidak tergesa-gesa untuk hamil dan berprinsip, “sak kersane Gusti Allah” kapan akan dikaruniai. Kapanpun insyaAllah ada hikmahnya. Meski naluri untuk segera memiliki momongan itu tetap menggebu, baik padaku juga pada suamiku. Hal yang meresahkanku adalah adanya kekhawatiran untuk sulit memiliki momongan, mengingat aku memiliki masalah pada siklus haid. Sejak awal (perawan), aku memiliki siklus haid yang berbeda dengan yang dialami perempuan pada umumnya. Selain tidak teratur, rata-rata aku hanya mengalami haid sekali dalam waktu 2 bulan (60 hari) bahkan bisa lebih dari 60 hari. Cukup panjang bukan? Terkadang, aku juga bisa tidak haid dalam waktu yang lama. Pernah sebelum menikah, setelah wisuda sarjana, aku tidak haid dalam waktu 5 bulan. Aku pernah mengkonsultasikan dengan beberapa dokter juga ahli kesehatan lain, tp jawaban mereka umumnya, “mungkin karena terlalu banyak pikiran, coba dipriksakan saja, etc…”. Menurut mereka, problem tersebut akan menjadikan setelah menikah kemungkinan besar sulit merencanakan kehamilan, karena sulit menentukan masa subur.

Ketika mencapai lebih dari setengah tahun aku belum juga merasakan tanda-tanda kehamilan, kadang ada pikiran buruk, “gimana kalau aku susah hamil, atau bahkan tidak bisa punya anak?” sementara suamiku adalah anak tunggal di keluarganya, tentu kehadiran keturunan menjadi salah satu yang sangat diharapkan baginya juga orangtuanya. Terkadang, sampai-sampai aku berpikir kemungkinan-kemungkinan untuk dimadu, “he… siap gag ya????” glek…

Terkadang aku pun mengungkapkan kekhawatiranku ini pada suamiku, termasuk kekhawatiran-kekhawatiran adanya problem pada organ reproduksiku. Namun, responnya selalu menenangkan juga menjadi pencerahan bagiku. Dia selalu menjawab, “Hamil/keturunan adalah murni ketentuan Allah, bukan bergantung pd hal lainnya. Kalau Allah sudah berkehendak tidak ada yang bisa menggagalkannya. Pasrah saja pada Allah, tetap yakin, dan menjaga prasangka baik padaNya.” Seketika hatiku pun menjadi tenang. Selama ini aku terlalu khawatir pada hal lainnya, dan berpikir bahwa kehamilan ditentukan oleh faktor kesehatan atau ‘teknik’. Seketika juga beristighfar, karena lalai bahwa Allah lah satu-satunya penentu untuk semua hal ini.

Aku juga tak pernah mendapati raut kekhawatiran dari wajah suamiku atau keluhan dari mulutnya, hingga aku pun bertanya, “Apa njenengan gak pernah merasa khawatir, sudah hampir 10 bulan belum juga hamil, padahal kita sudah berusaha?”. Tegas ia menjawab, “Tidak! Kenapa harus khawatir, kita punya Allah!” ya, memang semestinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh orang-orang yang punya iman di dalam hatinya. Ini masalah aqidah, astaghfirullah, ternyata masih perlu ada yang diluruskan dari aqidahku.

Aku pun kemudian pasrah dan tawakkal padaNya, tidak lagi merasa khawatir, dan senantiasa berprasangka baik padaNya. Yakin sepenuhnya ini adalah ketentuanNya, dan aku percaya akan rencanaNya. Tidak ada lagi beban yang kurasa. Aku bersyukur memiliki suami yang bisa meluruskan pemahamanku yang salah, bukan malah menuntut atau menambah beban istrinya dengan selalu menanyakan perihal kehamilannya. Orangtuaku pun tidak pernah terkesan menuntut bahwa aku harus segera memiliki anak. Sehingga aku tidak pernah merasa terbebani dan menjadi stress karena memikirkan bagaimana caranya bisa segera memenuhi harapan-harapan mereka, segera hamil, segera hamil, segera hamil…

Pada bulan-bulan awal menikah, beberapa kali pernah curiga ketika haid tidak kunjung datang. Kalau tidak salah 2 kali pernah melakukan tes urine secara mandiri tapi hasilnya selalu negatif. Aku lupa, kalau haidku memang tidak teratur, jadi terlambat haid tidak serta merta menjadi tanda kehamilan. Sehingga kemudian, aku tidak lagi mudah ke-GR-an, ketika di bulan-bulan berikutnya terlambat haid.

Tibalah pada bulan ke 10 sejak pernikahanku, yakni di bulan April 2011. Saat itu aku merasakan nyeri di perutku seperti rasa nyeri yang kurasakan setiap menjelang haid. Aku berpikir, “waah program hamilnya gagal lagi nih, bentar lagi mau haid.” Sejak 2 bulan sebelumnya aku memang belum haid, terakhir aku haid akhir bulan Februari. Namun, biasanya aku merasakan nyeri hanya 3-4 hari sebelum akhirnya haid datang, sementara itu, kali ini hingga lebih dari seminggu aku masih saja meraskana nyeri, sementara haid tidak kunjung datang. Aku pun khawatir, “ada apakah?”. Segera aku googling tentang tanda-tanda kehamilan, sebagaimana kecurigaanku salah satunya mengarah kesana. Beberapa artikel yang kubaca menyebutkan demikian, tapi ketika tanya sana sini pada orang-orang yang berpengalaman, kebanyakan dari mereka tidak merasakan hal demikian di awal kehamilannya, aku pun menjadi tidak yakin 100 persen pada kecurigaanku itu. Akhirnya, aku putuskan untuk mengetesnya saja. Aku minta suamiku membelikanku testpack.

Masih teringat, saat itu, dini hari sekitar jam 2-3 pagi, aku terbangun, bermaksud mengambil wudlu untuk sholat lail. Karena kebiasaan ba’da tidur selalu ada rutinitas buang air kecil, begitu sampai masuk kamar mandi, aku langsung keluar lagi mengambil test peck. Karena syarat urine yang bisa menunjukkan hasil yang akurat untuk di tes adalah urine pertama di pagi hari. Bismillah, dag dig dug rasanya saat menunggu hasilnya, bahkan aku sampai-sampai tidak mampu memandangi test peck yg masih kupegang. Namun, dalam hati ada keyakinan kuat, pasti garisnya dua, dua, dua….. dan ternyata….. DUA!!!! Alhamdulillah… rasanya ingin langsung teriak waktu itu saking girangnya, tapi tentu tidak mungkin, karena bisa-bisa membangunkan orang sekampung, hehe…. Tergesa-gesa aku keluar kamar mandi menuju suamiku yang masih terlelap di tempat tidur. Tak sabar aku bangunkan dia, dengan masih ‘hayub-hayuben’ setengah sadar, aku tunjukkan garis 2 di test peckku padanya, sambil berkata, “Positif… positif… yaaaank…. aku hamilll….”

Dan setelah diperiksa USG di RSIA Adinda oleh dr. Dyah Rumekti SpOG seminggu setelahnya, ternyata usia kehamilanku sudah 6 minggu berjalan, subhannallah wal hamdulillah…

InsyaAllah bersambung…..

# Ada seorg laki2 yg mendatangi Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, sy blm py anak sama sekali.”Lalu Rasulullah bertanya, “Kenapa kamu tidak memperbanyak saja ISTIGHFAR dan BERSHODAQOH?” Org tsb pun melakukannya, akhirnya ia mendapat 6 org anak.#